Bukan Sekadar Belajar Python & SQL, Begini Perjalanan Rafida Jadi Top Portfolio Data
Di tengah perkembangan industri yang semakin mengandalkan data, banyak profesional mulai menyadari pentingnya mengembangkan skill baru agar tetap relevan di dunia kerja.
Hal serupa juga dirasakan oleh Rafida Salma Rahmawati, Quality Assurance & Accreditation Staff di Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus alumni Bootcamp Data Analyst with SQL & Python Batch 23 yang memulai perjalanan belajarnya dari rasa ingin tahu hingga kini mampu menerapkan pola pikir analitis dalam pekerjaannya sehari-hari.
Lulusan Geofisika Universitas Gadjah Mada (UGM), Rafida mengaku mulai tertarik mempelajari data saat lulus di masa pandemi. Di tengah ketidakpastian saat itu, ia mencari cara untuk meningkatkan kompetensi dan menemukan bahwa bidang data memiliki peluang yang luas.
“Waktu itu kan saya lulusnya di era pandemi ya ka, jadi kaya apa ya skill yang bisa saya upgrade selain bidang Geofisika? Dari situ saya mulai mencoba berbagai course dan tertariklah kita coba daftar bootcamp-bootcamp data analyst.” ungkap Rafida ini merupakan satu langkah yang menarik untuk bisa upgrade dirinya.
Sejak itu, Rafida semakin mendalami bidang data, salah satu caranya dengan mengikuti program Bootcamp DQLab. Tak hanya memperoleh skill teknis, ia juga membangun cara berpikir analitis yang kini diterapkan dalam pekerjaannya.
Sahabat DQ, ingin tahu kisah lengkapnya seperti apa? Yuk simak terus selengkapnya!
1. Memilih Bootcamp yang Tepat untuk Memulai Belajar Data
Sebelum mengikuti Bootcamp DQLab, Rafida telah mencoba beberapa modul gratis yang tersedia di platform DQLab. Pengalaman tersebut, membuatnya merasa proses belajar menjadi lebih mudah, terutama saat peserta dapat langsung praktik tanpa harus melakukan instalasi tools tambahan.
“Sebelumnya saya sempat mencoba free module DQLab. Menurut saya, platformnya user-friendly karena kita bisa langsung praktik coding tanpa perlu install aplikasi tambahan.
Ada juga hint yang membantu saat mengerjakan latihan, jadi lebih mudah dipahami, terutama buat pemula yang belajar data.” jelas Rafida
Bagi Rafida, fitur pembelajaran yang interaktif menjadi salah satu alasan utama memilih DQLab. Di samping itu, paket Bootcamp yang dibundling dengan Sertifikasi BNSP juga menjadi nilai tambah yang semakin memantapkan pilihannya untuk bergabung.
2. Belajar Lebih Terarah dengan Kurikulum yang Terstruktur
Selama mengikuti Bootcamp Data Analyst with SQL & Python Batch 23, Rafida fokus menyelesaikan setiap materi dan misi sesuai timeline yang telah disusun. Baginya, kurikulum yang terstruktur membantu proses belajar menjadi lebih terarah, terutama bagi peserta yang baru memulai perjalanan di bidang data.
Sama seperti peserta lainnya, ia juga menghadapi tantangan selama belajar yaitu pada proses pengerjaan misi yang dimana memiliki standar penilaian cukup detail. Kesalahan kecil seperti penulisan variabel atau typo dapat mempengaruhi hasil jawabannya, sehingga peserta dibantu untuk lebih teliti dalam melakukan debugging.
“Walaupun cukup menantang, kurikulum dan materi yang diberikan tetap sesuai dengan ekspektasi saya” jelas Rafida.
Di balik tantangannya tersebut, Rafida justru merasa proses belajar menjadi lebih bermakna karena melatih ketelitian dan kemampuan problem solving yang sangat dibutuhkan ketika bekerja dengan data.
3. Menyandang Gelar Best Portoflio, Rafida Bangun Portofolio dari Dataset Publik
Dengan ketekunannya dalam menyelesaikan seluruh rangkaian misi di Bootcamp, membuahkan hasil Rafida menjadi Top Portofolio Bootcamp SQL & Python Batch 23. Strategi yang dilakukan Rafida adalah memilih menggunakan dataset publik dari Kaggle untuk menyusun portofolio data.
Ia mengangkat isu layoff yang saat itu banyak diperbincangkan di era pandemi sehingga analisis yang dibuat terasa lebih relevan dengan kondisi nyata.
Dalam proses membangun portofolio data tersebut, Rafida mengungkapkan bahwa tantangan terbesar bukan sekadar mengolah data menggunakan Python, SQL, maupun Data Studio, tetapi menemukan insight yang menarik serta menyajikannya agar mudah dipahami oleh pembaca.
“Struggle nya yang dialaminya justru menentukan insight apa yang ingin ditampilkan. Dari data seperti tanggal atau jumlah layoff, saya harus mencari cara agar hasil analisis tersebut bisa disajikan dengan menarik dan mudah dipahami oleh orang lain."

source: Dashboard - Portofolio Rafida
Bagi Rafida, sebuah portofolio yang baik tidak hanya menunjukkan kemampuan mengolah data, tetapi juga mampu menyampaikan cerita dan menghasilkan insight yang relevan bagi pembacanya
4. Membangun Cara Berpikir Analisis, Bukan Sekadar Menguasai Tools
Saat ini Rafida bekerja di lingkungan perguruan tinggi, dengan day-to-day nya bertanggung pengelolaan data yang mendukung proses akreditasi. Meskipun tools yang digunakan sehari-hari berbeda dengan yang dipelajari saat bootcamp, pengalaman belajar di DQLab tetap memberikan manfaat yang terasa hingga sekarang.
Ia menjelaskan bahwa hal yang paling banyak diterapkan bukan sekadar penggunaan Python atau SQL, melainkan cara berpikir analitis dalam memahami proses bisnis.
“Yang paling kepakai itu cara berpikirnya. Misalnya kita pahami dulu proses bisnisnya seperti apa, baru kemudian dianalisis. Walaupun tools yang saya gunakan saat ini lebih banyak Excel, saya jadi punya gambaran workflow analisis yang didapat dari Bootcamp."
Dengan kata lain, Bootcamp tidak hanya membekali peserta dengan kemampuan teknis, tetapi juga membantu membangun pola pikir analitis yang dapat diterapkan di berbagai bidang pekerjaan.
5. Mendapat Insight dari Bootcamp yang Tak Dapat di Internet
Hal yang membuat Rafida puas dengan penawaran program yang ditawarkan oleh Bootcamp DQLab yang tak kalah pasti adalah sharing inisght dan juga praktik bersama dengan Mentor yang sudah berpengalaman dibidang data.
Baginya, sesi tersebut bukan hanya membahas materi, tetapi juga menghadirkan pengalaman nyata dari praktisi yang sulit diperoleh melalui pembelajaran mandiri.
“Kalau materinya mungkin masih bisa kita cari sendiri. Tapi pengalaman dan insight dari mentor langsung itu yang menurut saya nggak bisa didapat dari internet."
Tak hanya itu, Rafida juga memanfaatkan sesi live untuk mendiskusikan materi yang belum dipahami. Menurutnya, kesempatan berdiskusi langsung dengan mentor maupun asisten mentor membuat proses belajar menjadi lebih interaktif dan membantu menjaga progres belajarnya tetap on track.
Ditambah dengan akses rekaman kelas yang dapat dipelajari kembali kapan saja, ia merasa proses belajar menjadi lebih fleksibel tanpa mengurangi kualitas pembelajaran.
Melalui pengalaman Rafida pada Bootcamp DQLab ini juga memberikan ketertarikannya explore lebih banyak lagi materi bidang data seperti Business Intelligence hingga Machine Learning sebagai bekal menghadapi kebutuhan industri yang terus berkembang
Menutup sesi sharing, Rafida juga berpesan agar siapa pun yang ingin memulai perjalanan di bidang data tidak ragu untuk terus meningkatkan kompetensinya.
“Upgrade skill itu ngga akan sia-sia , karena skill yang kita pelajari saat ini atau materi yang kemarin-kemarin pasti akan berguna dalam dunia profesional”
Karena pada akhirnya, yang akan terus dibawa bukan hanya sertifikat atau kemampuan menggunakan tools, tetapi cara berpikir yang terbentuk selama proses belajar. Seperti Rafida, perjalanan mengembangkan skill di bidang data bisa menjadi membuka peluang baru dan memberikan dampak nyata di dunia kerja.
Mungkin, perjalanan berikutnya adalah ceritamu! Ingin upgrade skill dan bangun portofolio data seperti Rafida? Sahabat DQ juga bisa memulai langkah yang sama melalui Bootcamp Data Analyst with Python & SQL, program yang diikuti Rafida selama mengembangkan kompetensinya di bidang data.
Kini, Bootcamp tersebut juga tersedia dalam paket bundling bersama Sertifikasi BNSP lho. Yuk, daftarkan dirimu melalui program Bundle Bootcamp & Sertifikasi BNSP Data Analyst sekarang!
Mulai Karier
sebagai Praktisi
Data Bersama
DQLab
Daftar sekarang dan ambil langkah
pertamamu untuk mengenal
Data Science.

Daftar Gratis & Mulai Belajar
Mulai perjalanan karier datamu bersama DQLab
Sudah punya akun? Kamu bisa Sign in disini
