PROMO 5.5 SUPER SALE 🎉 DISKON 98%
Belajar Data Science Bersertifikat, 6 BULAN hanya Rp 100K!
0 Hari 0 Jam 33 Menit 46 Detik

4 Tipe Machine Learning, Beginner Wajib Paham!

Belajar Data Science di Rumah 21-Mei-2025
https://dqlab.id/files/dqlab/cache/3-longtail-rabu-07-2024-09-10-065527_x_Thumbnail800.jpg

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan data, dua istilah ini sering banget muncul: supervised learning dan unsupervised learning. Kedengarannya teknikal? Memang. Tapi bukan berarti harus bikin pusing. Seringkali, saat mulai belajar data science atau bahkan saat udah kerja di dunia tech, kita dihadapkan pada pertanyaan krusial “kapan ya harus pakai supervised atau unsupervised, ya?”. Ini bukan sekadar pilihan algoritma, tapi tentang bagaimana cara kita memahami karakter data, tujuan analisis, dan strategi berpikir yang tepat. Di sinilah banyak orang kebingungan. Nah, supaya tidak bingung, langsung saja kita kupas secara lengkap, yuk!


1. Memahami Dasar Supervised vs Unsupervised Learning

Sebelum kita bahas kapan harus pakai yang mana, kita harus tahu dulu bedanya. Supervised learning itu ibarat belajar dari soal-soal latihan yang udah ada jawabannya. Misalnya, kita punya data harga rumah dan informasi seperti luas bangunan, jumlah kamar, lokasi, dan sebagainya, lalu kita belajar untuk memprediksi harga rumah berdasarkan data tersebut. Karena ada "jawaban" atau label yang jelas, ini disebut supervised.


Sebaliknya, unsupervised learning itu seperti menjelajah tanpa peta. Kita punya data, tapi nggak ada label atau jawaban yang dikasih sebelumnya. Tujuannya adalah menemukan pola tersembunyi di dalam data, seperti mengelompokkan jenis pelanggan berdasarkan perilaku belanja mereka, tanpa tahu siapa mereka sebenarnya. Kedua metode ini adalah fondasi dari banyak aplikasi machine learning yang kita temui sehari-hari—dari rekomendasi film di Netflix sampai deteksi penipuan di transaksi keuangan.


2. Pentingnya Algoritma Supervised & Unsupervised Learning

Oke, kamu mungkin mikir, “Kenapa gue harus peduli sama ini?” Jawabannya simpel: karena pilihan metode yang tepat bisa bikin model machine learning kamu jauh lebih efektif. Kalau kamu salah pilih, bisa-bisa model kamu gagal memahami data dan ngasih hasil yang nggak relevan.


Misalnya, kamu lagi bikin sistem deteksi email spam. Kalau kamu punya banyak data email yang udah dilabeli “spam” atau “bukan spam”, maka supervised learning jelas pilihan yang tepat. Tapi kalau kamu kerja di startup baru dan datanya belum dilabeli, kamu bisa mulai dengan unsupervised learning untuk mengelompokkan email berdasarkan kemiripan pola.


Dengan kata lain, pemahaman yang kuat tentang kapan dan bagaimana menggunakan masing-masing pendekatan ini bisa bikin kamu terlihat jauh lebih kompeten di mata rekruter, atasan, bahkan dosen pembimbing skripsi!


Baca juga: Mengenal NLP, Salah Satu Produk Machine Learning


3. Cara Kerja & Waktu Penggunaan Supervised Learning

Supervised learning bekerja dengan cara “mengajari” model dari data berlabel. Model ini akan belajar dari hubungan antara fitur (misalnya tinggi badan dan berat badan) dan label (misalnya kategori kurus, normal, gemuk). Beberapa algoritma populer di sini termasuk Linear Regression, Decision Tree, dan Support Vector Machine.


Data yang dibutuhkan pun harus berkualitas tinggi. Kalau data kamu penuh noise, tidak seimbang, atau tidak lengkap, performa model akan menurun drastis. Makanya, sebelum melatih model, penting untuk melakukan preprocessing seperti normalisasi, imputasi nilai yang hilang, hingga balancing data.


Penggunaan supervised learning paling cocok untuk masalah prediksi, klasifikasi, dan deteksi. Misalnya: memprediksi churn pelanggan, mengklasifikasikan jenis tumor, atau mengenali wajah dalam gambar. Gunakan supervised learning ketika:

  1. Kamu punya data yang sudah dilabeli.

  2. Tujuanmu adalah memprediksi atau mengklasifikasikan sesuatu

  3. Kamu ingin mengukur akurasi dengan jelas karena ada ground truth

Contoh lain yang seru adalah prediksi tren saham. Jika kamu punya histori harga saham yang sudah diberi label naik/turun berdasarkan indikator tertentu, kamu bisa pakai supervised learning untuk melatih modelmu.


Tapi, penting juga untuk memperhatikan overfitting—yaitu saat model terlalu bagus di data latih, tapi jelek banget pas diuji di data baru. Solusinya bisa dengan teknik regularisasi atau cross-validation.


4. Cara Kerja & Waktu Penggunaan Unsupervised Learning

Unsupervised learning tidak butuh data berlabel. Model akan mencari pola sendiri dalam data mentah. Algoritma populer di sini adalah K-Means, Hierarchical Clustering, dan PCA (Principal Component Analysis).


Unsupervised learning paling cocok buat eksplorasi data, segmentasi pasar, rekomendasi produk, atau pengurangan dimensi. Misalnya, kalau kamu punya ribuan review produk tanpa label “positif” atau “negatif”, unsupervised learning bisa bantu kamu mengelompokkan review-review itu ke dalam topik tertentu secara otomatis.


Proses ini sering dipakai sebagai langkah awal sebelum pindah ke supervised learning, terutama kalau kamu belum punya label tapi pengin ngerti struktur data kamu terlebih dahulu. Kemudian kamu bisa menggunakan unsupervised learning ketika:

  1. Kamu nggak punya label data.

  2. Kamu ingin mengeksplorasi pola tersembunyi.

  3. Tujuanmu adalah pengelompokan atau reduksi dimensi

Misalnya, sebuah perusahaan e-commerce pengin tahu segmentasi pelanggan berdasarkan pola belanja mereka. Karena nggak ada label yang jelas seperti “pembeli loyal” atau “pembeli musiman”, unsupervised learning seperti clustering bisa jadi solusi yang sangat powerful.


Aspek penting perlu diperhatikan adalah interpretabilitas. Karena tidak ada label, hasil dari unsupervised learning bisa menimbulkan kebingungan kalau tidak dianalisis dengan hati-hati. Selalu validasi hasil kamu dengan visualisasi atau metrik tambahan seperti silhouette score.


Baca juga: Bootcamp Machine Learning & AI for Beginner


4. Bisakah Menggabungkan Keduanya?

Nah, kalau kamu bertanya “bisakah untuk menggabungkan kedua algoritma tersebut?”. Jawabannya: bisa banget! Di dunia nyata, sering kali kita nggak hanya mengandalkan satu metode. Banyak praktisi data memulai dengan unsupervised learning untuk memahami data, lalu lanjut dengan supervised learning setelah ada label yang dihasilkan.


Contohnya, kamu bisa pakai clustering untuk mengelompokkan data transaksi, lalu gunakan hasil kelompok tersebut sebagai fitur tambahan dalam model prediksi penipuan menggunakan supervised learning. Ini akan memperkaya model kamu dan meningkatkan performanya. Pendekatan hybrid ini cocok buat kamu yang kerja di startup, punya data terbatas, tapi tetap pengin dapet insight mendalam sekaligus bikin model yang prediktif.


FAQ

Q: Apakah supervised learning selalu lebih akurat daripada unsupervised?
A: Tidak selalu. Supervised learning memang bisa lebih akurat kalau datanya lengkap dan dilabeli dengan benar, tapi unsupervised sangat berguna dalam eksplorasi dan deteksi anomali.

Q: Bisa nggak mulai dari unsupervised dulu lalu lanjut ke supervised?
A: Bisa banget. Ini malah umum terjadi dalam proses pengembangan model. Clustering bisa bantu kamu memahami struktur data sebelum menentukan label atau fitur penting.

Q: Mana yang lebih susah dipelajari?
A: Supervised biasanya lebih mudah dipahami di awal karena ada “jawaban”. Tapi unsupervised butuh lebih banyak interpretasi dan eksplorasi.


Nah, jadi gimana? Kamu tertarik untuk mempelajari berbagai algoritma machine learning secara lebih dalam, serta menerapkannya untuk upgrade karir kamu? Yuk, segera Sign Up ke DQLab! Disini kamu bisa banget belajar dengan modul berkualitas dan tools sesuai kebutuhan industri dari dasar hingga advanced meskipun kamu nggak punya background IT, lho. Dilengkapi studi kasus yang membantu para pemula belajar memecahkan masalah secara langsung dari berbagai industri.


Tidak cuma itu, DQLab juga sudah menerapkan metode pembelajaran HERO (Hands-On, Experiential Learning & Outcome-based) yang dirancang ramah untuk pemula, dan telah terbukti mencetak talenta unggulan yang sukses berkarier di bidang data. Jadi, mau tunggu apa lagi? Yuk, segera persiapkan diri dengan modul premium atau kamu juga bisa mengikuti Bootcamp Machine Learning and AI for Beginner sekarang juga!


Penulis: Lisya Zuliasyari

Mulai Karier
sebagai Praktisi
Data Bersama
DQLab

Daftar sekarang dan ambil langkah
pertamamu untuk mengenal
Data Science.

Daftar Gratis & Mulai Belajar

Mulai perjalanan karier datamu bersama DQLab

Daftar dengan Google

Sudah punya akun? Kamu bisa Sign in disini