SERBU PROMO HOKI!! DISKON 98%
Belajar Data Science Bersertifikat, 6 BULAN hanya Rp 100K!
0 Hari 15 Jam 59 Menit 38 Detik

Cara Menggunakan ChatGPT untuk Brainstorming Ide Anti Stuck!

Belajar Data Science di Rumah 20-Februari-2026
https://dqlab.id/files/dqlab/cache/3-longtail-jumat-09-2025-05-15-193148_x_Thumbnail800.jpg

Bicara soal “brainstorming” rasa-rasanya mudah kelihatannya. Namun, banyak orang justru terjebak karena kebuntuan ide dan ide yang muncul terasa itu-itu saja. Kondisi ini biasanya terjadi karena otak terlalu fokus pada hasil akhir, tanpa memerdulikan proses eksplorasi yang terjadi untuk menemukan ide tersebut. Akibatnya, kita jadi ragu sendiri, merasa hebat terlalu menilai ide sendiri, dan ujung-ujungnya tidak berani melanjutkan.

Padahal, namanya brainstorming ide justru lahir dari banyak kemungkinan, termasuk ide yang tidak langsung sekelebat datang. ChatGPT hadir sebagai partner diskusi yang responsif, memancing variasi sudut pandang, dan membantu memecah masalah menjadi ide-ide turunan. Biar kamu kesannya tidak seperti minta ide ke ChatGPT, berikut DQLab bagikan informasi buat kamu. Simak terus, ya!

1. Mulai dari Masalah

Kesalahan paling umum saat brainstorming adalah memulai dari kalimat “aku butuh ide” tanpa menyebutkan masalah yang ingin diselesaikan. Maka, langkah pertama yang tepat adalah menuliskan masalah secara spesifik yakni untuk siapa, konteksnya apa, dan apa yang ingin dicapai. Semakin jelas masalahnya maka semakin tajam juga ide yang keluar.

Kamu bisa memulai dengan prompt sederhana seperti “Aku butuh ide untuk [tujuan], target audiensnya [siapa], batasannya [apa]. Tolong berikan 20 ide.”. Namun, lebih efektif lagi jika kamu meminta ChatGPT untuk merumuskan ulang masalah sebelum memberi ide. Misalnya “Bantu aku memetakan masalahnya dulu, lalu buat daftar ide solusi.”


Baca Juga: Bootcamp Machine Learning and AI for Beginner


2. Evaluasi Belakangan

Brainstorming yang cepat tidak akan berjalan jika kamu langsung menilai ide sejak awal. Banyak orang berhenti di ide ke-3 atau ke-5 karena merasa ide tersebut tidak cukup bagus. Padahal, fase awal brainstorming memang harus “liar” dulu karena tujuan utamanya adalah memperluas kemungkinan.

Coba gunakan prompt seperti “Buat 30 ide tanpa menyaring kualitas dulu. Ide boleh aneh, ekstrem, atau tidak biasa.” Setelah daftar keluar, barulah kamu masuk fase evaluasi dengan prompt lanjutan: “Dari 30 ide ini, pilih 5 yang paling realistis dan jelaskan alasannya.” Jadi, kamu tidak akan terjebak terlalu cepat dan ide yang awalnya terlihat biasa bisa berkembang menjadi konsep yang lebih kuat.

3. Gunakan “Role Prompt” untuk Memancing Sudut Pandang Baru

Kalau kamu stuck, biasanya bukan karena tidak ada ide sama sekali. Kamu merasa bahwa sudut pandang yang kamu miliki terlalu sempit. Kamu melihat masalah hanya dari kacamata yang sama sehingga ide yang muncul pun mirip-mirip. ChatGPT bisa membantu dengan cara mengubah perspektif melalui role prompt.

Contoh prompt yang bisa kamu pakai: “Anggap kamu seorang content strategist. Berikan ide-ide yang cocok untuk target audiens pemula.” Lalu lanjutkan dengan: “Sekarang anggap kamu seorang audiens yang skeptis. Ide mana yang paling meyakinkan dan kenapa?” Teknik ini membuat ide lebih beragam, karena setiap role memiliki cara berpikir, prioritas, dan pola solusi yang berbeda.


4. Pecah Ide Besar Jadi Komponen Kecil (Micro-Brainstorming)

Kadang kamu stuck karena masalahnya terlalu besar, sehingga otak sulit memulai. Misalnya kamu ingin “membuat campaign besar”, “membuat produk baru”, atau “membuat konten viral.” Itu semua terdengar berat dan membuat kamu ragu untuk memulai langkah pertama. Cara paling efektif adalah memecahnya menjadi bagian kecil, lalu brainstorming per bagian.

Gunakan prompt seperti: “Bantu aku pecah proyek ini menjadi 7 komponen. Setelah itu, brainstorm ide untuk masing-masing komponen.” Misalnya untuk konten: angle, judul, hook, struktur, contoh, CTA, dan distribusi.


Baca Juga: Tata Cara Menggunakan AI ChatGPT Anti Ribet!


5. Gunakan Prompt Berbasis Variasi

Jika kamu hanya meminta “buat 20 ide”, hasilnya sering terlalu mirip dan tidak terstruktur. Cara yang lebih cepat dan rapi adalah menggunakan format variasi. Misalnya 5 kategori, masing-masing 5 ide, atau 10 ide dengan 3 versi. Teknik ini memaksa ChatGPT untuk membagi ide secara lebih terarah dan membuat kamu lebih mudah memilih.

Contoh prompt: “Buat 5 kategori ide, masing-masing 5 ide. Kategori harus berbeda (misalnya edukasi, humor, storytelling, studi kasus, dan kontroversial ringan).” Atau: “Buat 10 ide, lalu untuk setiap ide buat 3 variasi judul yang berbeda.” Hasilnya biasanya lebih kaya dan kamu tidak cepat bosan karena ide punya warna yang berbeda.

Brainstorming sat-set anti ribet bisa kamu wujudkan kalau menggunakan metode yang tepat. ChatGPT siap menjadi alat bantu kamu selama kamu bisa menjelaskan konteksnya dan berusaha untuk memancing perspektif yang beragam. Kalau kamu hanya mengetik “berikan aku ide”, jawaban yang kamu dapatkan juga biasa-biasa saja. Namun, beda kalau kamu menggunakan teknik prompt yang lebih terstruktur, pasti hasilnya luar biasa.


FAQ

1. Apakah ChatGPT bisa menggantikan brainstorming manual sepenuhnya?

Tidak sepenuhnya. ChatGPT lebih tepat digunakan sebagai akselerator untuk memperbanyak opsi dan membuka sudut pandang baru. Kamu tetap perlu menilai relevansi, memilih ide terbaik, lalu mengeksekusinya sesuai kebutuhan.

2. Kenapa ide dari ChatGPT kadang terasa generik atau mirip-mirip?

Biasanya karena prompt yang kamu berikan terlalu umum dan minim konteks. Solusinya, mulai dari masalah yang spesifik, tambahkan target audiens, tujuan, batasan, serta minta variasi ide berdasarkan kategori atau role.

3. Apa teknik paling cepat saat benar-benar stuck dan butuh ide dalam waktu singkat?

Gunakan teknik “divergen dulu, evaluasi belakangan” dan minta ChatGPT menghasilkan ide tanpa menyaring kualitas. Setelah itu, baru minta ia memilih dan merapikan 5 ide paling realistis untuk ditindaklanjuti.


Mau jadi yang terdepan dalam tren AI Workflow Automation? Daftar Bootcamp Gen AI & N8N sekarang juga! Kamu akan dibimbing langsung membangun sistem otomatisasi berbasis AI, menguasai integrasi API, dan memahami bagaimana data bisa dimanfaatkan lebih cerdas untuk produktivitas. Bootcamp ini sudah terbukti ramah pemula dengan metode hands-on learning. Selain materi yang bisa diakses selamanya, kamu juga akan dapat progress tracker, portfolio mentoring, dan e-certificate sebagai bukti keahlian. Jangan sampai ketinggalan, kuota terbatas!


Penulis: Reyvan Maulid

Postingan Terkait

Mulai Karier
sebagai Praktisi
Data Bersama
DQLab

Daftar sekarang dan ambil langkah
pertamamu untuk mengenal
Data Science.

Daftar Gratis & Mulai Belajar

Mulai perjalanan karier datamu bersama DQLab

Daftar dengan Google

Sudah punya akun? Kamu bisa Sign in disini