Cara Menyusun Prompt di ChatGPT untuk Pemula Biar Jawaban Akurat
Banyak pemula mengira ChatGPT akan otomatis memahami maksud kita, padahal kualitas jawaban sangat bergantung pada cara kita menyusun prompt. Prompt yang terlalu pendek atau terlalu umum sering membuat jawaban melebar, kurang sesuai konteks, atau terasa “ngawang”. Akhirnya, pengguna malah menyimpulkan ChatGPT tidak akurat, padahal masalahnya ada pada instruksi yang diberikan. Kabar baiknya, menyusun prompt yang tepat itu bisa dipelajari dengan rumus sederhana.
Prompt pada dasarnya adalah cara kita memberi arahan seperti memberi brief ke manusia. Semakin jelas tujuan, konteks, dan format yang kita minta, semakin mudah ChatGPT menghasilkan jawaban yang sesuai. Kamu tidak harus pakai istilah teknis atau kalimat rumit. Yang penting, prompt kamu terstruktur, spesifik, dan punya batasan yang jelas. Berikut cara menyusun prompt di ChatGPT untuk pemula agar jawabannya sesuai keinginan. Ayo, simak sahabat DQLab!
1. Kenapa Prompt yang Bagus Bisa Mengubah Kualitas Jawaban?
ChatGPT bekerja dengan menebak respons paling relevan berdasarkan instruksi dan konteks yang kamu berikan. Kalau prompt hanya berisi “jelaskan ini” atau “Buatkan artikel” sistem akan berasumsi sesuai keinginannya. Akibatnya, jawaban yang dihasilkan terlalu umum atau tidak sesuai kebutuhan.
Prompt yang bagus membuat ChatGPT dalam memahami apa yang kamu mau tanpa perlu menebak-nebak. Selain itu, prompt yang terstruktur dapat membantu untuk mengontrol panjang tulisan, gaya bahasa, hingga output yang dihasilkan. Prompt yang rapi akan menghemat waktu karena kamu tidak perlu revisi berkali-kali. Jadi, belajar menyusun prompt adalah langkah efektif untuk mendapatkan jawaban yang akurat.
Baca Juga: Bootcamp Machine Learning and AI for Beginner
2. Struktur Prompt Paling Aman untuk Pemula
Untuk pemula, kamu bisa memakai rumus sederhana yang terdiri dari lima bagian yaitu tujuan, konteks, peran, format, dan batasan. Tujuan menjelaskan apa yang kamu ingin hasilkan. Konteks memberi latar belakang agar jawabannya relevan. Peran membuat ChatGPT menulis dengan sudut pandang tertentu, misalnya sebagai tutor, editor, atau analis.
Setelah itu, format membantu output lebih rapi seperti minta poin-poin, tabel, atau artikel dengan subjudul. Terakhir, batasan menentukan detail seperti panjang tulisan, gaya bahasa, target pembaca, dan hal-hal yang harus dihindari. Rumus ini mudah dipakai untuk apa pun, mulai dari tugas sekolah sampai kebutuhan kerja.
3. Contoh Prompt Buruk vs Prompt Bagus
Prompt buruk biasanya terlalu singkat. Misalnya, “buat artikel tentang ChatGPT.” Permintaan seperti ini tidak memberi konteks, tidak menentukan target pembaca, dan tidak menjelaskan format yang diinginkan. Akibatnya, ChatGPT bisa menulis artikel yang terlalu panjang, terlalu teknis, atau terlalu umum. Bahkan bisa jadi tidak sesuai gaya tulisan yang kamu mau.
Bandingkan dengan prompt yang lebih rapi. Misalnya, “buat artikel untuk pemula tentang cara menyusun prompt di ChatGPT. Target pembaca mahasiswa. Gunakan gaya bahasa santai tapi tetap informatif. Struktur: pembuka 2 paragraf, 4 subjudul isi, penutup 2 paragraf. Setiap paragraf 3–4 kalimat.” Prompt seperti ini membuat output jauh lebih sesuai karena ChatGPT punya arah yang jelas.
Baca Juga: Tata Cara Menggunakan AI ChatGPT Anti Ribet!
4. Teknik Membuat Prompt Lebih Akurat
Cara paling cepat meningkatkan akurasi jawaban adalah membuat prompt lebih spesifik. Misalnya, daripada bertanya “cara belajar cepat”, kamu bisa menulis “buat rencana belajar 7 hari untuk memahami dasar Python, 1 jam per hari, untuk pemula.” Detail kecil seperti durasi, level, dan tujuan akhir akan membuat jawaban lebih tepat sasaran. Ini juga mencegah ChatGPT memberi saran yang terlalu luas.
Selain itu, memberi contoh juga sangat membantu. Kalau kamu ingin gaya tulisan tertentu, kamu bisa menambahkan contoh 2-3 kalimat sebagai referensi. Lalu, pastikan kamu meminta output yang jelas, misalnya berupa langkah-langkah bernomor atau tabel. Teknik ini membuat hasil lebih rapi, mudah dipakai, dan mengurangi revisi.
5. Cara Revisi Prompt Kalau Jawabannya Masih Kurang Pas
Kadang jawaban ChatGPT sudah bagus, tapi masih kurang sesuai ekspektasi kamu. Di sini, pemula sering salah langkah yaitu mereka mengulang prompt dari awal tanpa memperbaiki instruksi. Padahal, cara paling efektif adalah memberi feedback yang spesifik. Misalnya “Tolong buat lebih ringkas,” atau “Tolong tambah contoh,” atau “Tolong ubah jadi bahasa yang lebih formal.”
Kamu juga bisa melakukan revisi dengan mengunci bagian yang sudah benar. Contohnya: “Bagian pembuka sudah bagus, tapi subjudul kedua terlalu umum. Tolong buat subjudul kedua lebih teknis dan tambahkan contoh prompt.” Cara ini membuat ChatGPT fokus memperbaiki bagian tertentu tanpa mengacak keseluruhan tulisan. Semakin jelas feedback kamu, semakin cepat kamu mendapatkan versi yang benar-benar sesuai.
Menyusun prompt di ChatGPT sebenarnya mirip seperti menyusun instruksi kerja. Harus jelas, punya konteks yang tepat, dan punya format sesuai keinginan. Pemula tidak perlu membuat prompt yang rumit, tapi perlu membuat prompt yang terstruktur. Kamu bisa meningkatkan kualitas jawaban cukup mengandalkan rumus sederhana seperti tujuan, konteks, peran, format, dan batasan.
FAQ
1. Apakah prompt harus panjang supaya jawaban ChatGPT akurat?
Tidak harus panjang, tapi harus jelas dan spesifik. Prompt singkat tetap bisa akurat jika memuat tujuan, konteks, dan format output yang kamu inginkan.
2. Apa yang harus dilakukan kalau jawaban ChatGPT masih melenceng?
Jangan ulang dari nol. Beri revisi yang spesifik, misalnya minta jawaban lebih ringkas, tambah contoh, atau ubah gaya bahasa agar sesuai kebutuhan.
3. Struktur prompt paling mudah untuk pemula itu seperti apa?
Kamu bisa pakai rumus 5 komponen: tujuan, konteks, peran, format, dan batasan. Struktur ini membantu ChatGPT memahami kebutuhanmu tanpa banyak menebak.
Mau jadi yang terdepan dalam tren AI Workflow Automation? Daftar Bootcamp Gen AI & N8N sekarang juga! Kamu akan dibimbing langsung membangun sistem otomatisasi berbasis AI, menguasai integrasi API, dan memahami bagaimana data bisa dimanfaatkan lebih cerdas untuk produktivitas. Bootcamp ini sudah terbukti ramah pemula dengan metode hands-on learning. Selain materi yang bisa diakses selamanya, kamu juga akan dapat progress tracker, portfolio mentoring, dan e-certificate sebagai bukti keahlian. Jangan sampai ketinggalan, kuota terbatas!
Penulis: Reyvan Maulid
Postingan Terkait
Menangkan Kompetisi Bisnis dengan Machine Learning
Mulai Karier
sebagai Praktisi
Data Bersama
DQLab
Daftar sekarang dan ambil langkah
pertamamu untuk mengenal
Data Science.

Daftar Gratis & Mulai Belajar
Mulai perjalanan karier datamu bersama DQLab
Sudah punya akun? Kamu bisa Sign in disini
