PROMO 7.7! DISKON 98%
Belajar Data Science Bersertifikat, 12 Bulan hanya 177K!

0 Hari 6 Jam 4 Menit 14 Detik

Perbedaan MySQL & SQLite pada Sistem Operasi SQL

Belajar Data Science di Rumah 18-Juni-2023
https://dqlab.id/files/dqlab/cache/kv-2-banner-longtail-selasa-06-2023-06-16-164750_x_Thumbnail800.jpg

Database merupakan salah satu unsur penting dalam sebuah aplikasi. Terdapat beberapa database yang biasa dipakai secara umum, misalnya saja MySQL dan SQLite. Dalam pengembangan perangkat lunak, penggunaan sistem manajemen basis data relasional (RDBMS) sering menjadi bagian penting dalam menyimpan, mengelola, dan mengambil data. Memilih antara MySQL dan SQLite tergantung pada kebutuhan spesifik proyek atau aplikasi Anda. 


Jika Anda bekerja pada proyek skala besar dengan beban kerja kompleks, memerlukan fitur lanjutan, dan mendukung banyak pengguna secara bersamaan, MySQL mungkin merupakan pilihan yang tepat. Namun, jika Anda bekerja pada aplikasi kecil atau proyek dengan kebutuhan basis data sederhana dan terintegrasi, SQLite dapat menjadi pilihan yang lebih cocok karena sifatnya yang mudah digunakan, portabel, dan tidak memerlukan konfigurasi server terpisah. Penting untuk mempertimbangkan persyaratan proyek, ketersediaan sumber daya, dan skalabilitas ketika memilih RDBMS yang sesuai untuk tujuan Anda.


Dua RDBMS yang populer dan sering dibandingkan adalah MySQL dan SQLite. Meskipun keduanya memiliki fungsi utama yang sama, yaitu menyediakan solusi penyimpanan data, terdapat beberapa perbedaan yang perlu dipertimbangkan saat memilih di antara keduanya. Mari kita jelajahi perbedaan utama antara MySQL dan SQLite lewat artikel ini yuk sahabat DQLab!


1. Skalabilitas dan Kinerja

MySQL didesain untuk menangani basis data yang besar dan kompleks dengan kinerja yang baik. Ini dapat mengelola banyak koneksi secara bersamaan dan menyediakan pengoptimalan kinerja tingkat lanjut. MySQL biasanya dipilih untuk aplikasi skala besar yang membutuhkan ketersediaan tinggi dan kinerja optimal.

sql

Sumber Gambar: Devopedia


SQLite, di sisi lain, lebih cocok untuk aplikasi yang lebih kecil dengan beban kerja yang lebih ringan. Ini berkinerja baik pada aplikasi desktop atau perangkat seluler yang membutuhkan basis data kecil dan terintegrasi dengan aplikasi itu sendiri. SQLite biasanya dipilih untuk aplikasi sederhana yang tidak memerlukan skala besar dan kemampuan multi-user.


Baca juga : Saatnya Belajar SQL, Kenali Rekomendasi Query SQL Bagi Pemula


2. Sistem Server vs File

Perbedaan mendasar antara MySQL dan SQLite adalah arsitektur yang mereka gunakan. MySQL adalah sistem manajemen basis data server yang berjalan sebagai proses terpisah dan memiliki komunikasi melalui jaringan. Ini berarti MySQL memerlukan instalasi dan konfigurasi yang lebih kompleks, serta membutuhkan sumber daya server yang memadai. Keuntungan dari pendekatan ini adalah kemampuan untuk mengelola basis data dari beberapa klien dan memberikan akses yang terpusat.


SQLite, di sisi lain, adalah basis data berbasis file yang berjalan di dalam aplikasi yang menggunakannya. Ini berarti tidak ada proses server terpisah dan tidak memerlukan instalasi atau konfigurasi yang rumit. File basis data SQLite dapat disimpan di dalam direktori aplikasi dan diakses secara langsung melalui aplikasi itu sendiri. Pendekatan ini lebih sederhana dan mudah digunakan untuk pengembangan aplikasi lokal atau single-user.


3. Multi-user vs Single User

MySQL dirancang untuk mendukung banyak pengguna secara bersamaan. Ini memiliki fitur keamanan dan akses pengguna yang canggih yang memungkinkan beberapa pengguna mengakses dan mengelola basis data secara bersamaan. MySQL memiliki sistem manajemen pengguna yang kuat yang dapat mengatur hak akses pengguna dan tingkat izin untuk memastikan keamanan dan privasi data.


SQLite, di sisi lain, hanya mendukung satu pengguna pada satu waktu. Ini cocok untuk aplikasi single-user atau lokal di mana hanya satu pengguna yang perlu mengakses basis data pada saat yang bersamaan. SQLite tidak memiliki sistem manajemen pengguna yang terpisah seperti MySQL, sehingga pengendalian akses dan keamanan harus diatur melalui logika aplikasi itu sendiri.


Baca juga : Catat! Ini 3 Keuntungan Belajar SQL dalam Mengolah Data


4. Fitur dan Fungsionalitas

MySQL adalah RDBMS yang lengkap dan kaya fitur dengan dukungan yang luas untuk berbagai jenis data, fungsi, dan tipe indeks. MySQL menyediakan fitur-fitur lanjutan seperti transaksi, tampilan, prosedur tersimpan, triger, dan dukungan untuk bahasa SQL yang komprehensif. Ini memungkinkan pengembang untuk membuat basis data yang kompleks dan menerapkan logika bisnis yang rumit di dalam basis data itu sendiri.


SQLite, di sisi lain, lebih ringkas dan sederhana. Ini tidak memiliki beberapa fitur tingkat lanjut seperti dukungan untuk transaksi atau tampilan. SQLite lebih berfokus pada penyimpanan dan pengambilan data yang cepat dan efisien. Namun, SQLite masih menyediakan fitur-fitur dasar yang diperlukan untuk kebanyakan aplikasi seperti indeks, fungsi SQL, dan kueri kompleks.


5. Platform

MySQL tersedia untuk berbagai platform seperti Windows, Linux, dan macOS. Ini dapat diinstal dan dijalankan di server fisik atau di cloud. MySQL juga mendukung skalabilitas horizontal dengan fitur replikasi yang memungkinkan replikasi data antara beberapa server.


SQLite juga tersedia untuk berbagai platform dan dapat digunakan di hampir semua sistem operasi, termasuk platform mobile seperti Android dan iOS. Karena tidak memerlukan instalasi server terpisah, SQLite sangat portabel dan mudah diimplementasikan dalam aplikasi yang berjalan di berbagai lingkungan.


Pemahaman bahasa SQL perlu benar-benar dipelajari karena memiliki peranan penting dalam database. Dengan persiapan database yang baik maka hasil analisis data pun akan semakin akurat.


DQLab merupakan suatu platform belajar online yang berfokus pada pengenalan Data Science & Artificial Intelligence (AI) dengan menggunakan berbagai bahasa pemrograman populer. Selain itu DQLab merupakan platform edukasi pertama yang mengintegrasi fitur ChatGPT.


DQLab juga menggunakan metode HERO, yaitu Hands-On, Experiental Learning & Outcome-based, yang dirancang ramah untuk pemula. Untuk bisa merasakan pengalaman belajar yang praktis & aplikatif yuk langsung saja sign up di DQLab.id/signup 


Penulis: Reyvan Maulid



Mulai Karier
sebagai Praktisi
Data Bersama
DQLab

Daftar sekarang dan ambil langkah
pertamamu untuk mengenal
Data Science.

Buat Akun


Atau

Sudah punya akun? Login