Sertifikat BNSP Desain Grafis Muda atau Madya? Simak Perbedaannya
Memilih jenjang sertifikasi BNSP desain grafis tidak boleh dilakukan secara asal. Banyak peserta yang mengira sertifikat Desain Grafis Muda dan Desain Grafis Madya hanya berbeda dari segi nama. Padahal keduanya memiliki tingkat kompetensi, ruang lingkup pekerjaan, hingga target peserta yang berbeda. Pemahaman tersebut dapat membantu kamu dalam memilih skema sertifikasi yang sesuai dengan kemampuan sehingga peluang dinyatakan kompeten saat asesmen menjadi lebih besar. Mau tahu perbedaan antara sertifikasi BNSP Desain Grafis Muda dan Desain Grafis Madya? Simak penjelasan berikut sahabat DQLab.
1. Tingkat Kompetensi
Perbedaan paling mendasar antara sertifikat BNSP Desain Grafis Muda dan Madya terletak pada tingkat kompetensi yang diharapkan dari peserta. Skema Desainer Grafis Muda dirancang untuk mengukur kemampuan teknis dasar dalam menghasilkan karya desain grafis sesuai kebutuhan. Peserta dinilai berdasarkan kemampuannya memahami prinsip desain, mengoperasikan perangkat lunak desain, menyusun elemen visual, serta menghasilkan karya yang memenuhi standar.
Sebaliknya, skema Desainer Grafis Madya tidak hanya menguji kemampuan teknis. Pada jenjang ini, peserta juga diharapkan mampu menerjemahkan kebutuhan klien menjadi konsep visual yang matang, memilih strategi desain yang tepat, serta mempertanggungjawabkan keputusan desain yang diambil. Dengan kata lain, peserta tidak hanya dituntut mampu membuat desain yang menarik, tetapi juga memahami alasan dan tujuan di balik setiap keputusan kreatif.
Baca Juga: 4 Contoh Portfolio Data Scientist yang Luar Biasa
2. Target Peserta
Perbedaan berikutnya dapat dilihat dari profil peserta yang menjadi sasaran masing-masing skema. Desainer Grafis Muda lebih sesuai bagi mahasiswa, lulusan baru, alumni SMK atau DKV, serta desainer pemula yang ingin memperoleh pengakuan kompetensi secara resmi. Pada tahap ini, peserta umumnya masih berada pada fase membangun pengalaman kerja dan portofolio profesional.
Sementara itu, Desainer Grafis Madya lebih ditujukan bagi desainer yang telah memiliki pengalaman menangani berbagai proyek. Peserta diharapkan telah terbiasa berinteraksi dengan klien, memahami proses kreatif dari awal hingga akhir, serta mampu menyelesaikan pekerjaan dengan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi. Oleh karena itu, banyak peserta memilih jenjang Madya setelah memiliki pengalaman kerja atau jam terbang yang cukup di bidang desain grafis.
3. Lingkup Asesmen
Asesmen pada skema Desainer Grafis Muda umumnya berfokus pada kemampuan peserta dalam melaksanakan pekerjaan desain sesuai prosedur dan standar yang telah ditentukan. Penilaian dilakukan terhadap keterampilan teknis, pemahaman prinsip desain, serta kemampuan menghasilkan karya yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Pada jenjang Desainer Grafis Madya, ruang lingkup asesmen menjadi lebih luas. Selain aspek teknis, asesor juga menilai kemampuan peserta dalam menganalisis kebutuhan proyek, menyusun konsep desain, menentukan pendekatan visual yang efektif, hingga mempresentasikan hasil pekerjaannya secara profesional. Dengan demikian, kompetensi yang diukur tidak hanya mencakup kemampuan menggunakan software desain, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan penyelesaian masalah.
Baca Juga: 4 Contoh Portfolio Data Scientist yang Luar Biasa
4. Pemilihan Jenjang Sesuai Kemampuan
Tidak ada jenjang yang lebih baik secara mutlak karena masing-masing dirancang untuk kebutuhan peserta yang berbeda. Jika kamu masih berada pada tahap awal karier atau baru mulai membangun portofolio, memilih skema Desainer Grafis Muda merupakan langkah yang lebih realistis. Kompetensi yang diuji sesuai dengan kemampuan yang umumnya dimiliki oleh desainer tingkat pemula sehingga proses asesmen dapat dijalani dengan lebih percaya diri.
Sebaliknya, apabila telah memiliki pengalaman mengerjakan berbagai proyek desain, terbiasa menyusun konsep kreatif, dan sering berkomunikasi dengan klien, maka skema Desainer Grafis Madya dapat menjadi pilihan yang lebih tepat. Sertifikasi pada jenjang ini menunjukkan bahwa kamu tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga mampu mengelola proses desain secara lebih profesional.
Perbedaan utama antara Sertifikat BNSP Desainer Grafis Muda dan Desainer Grafis Madya terletak pada tingkat kompetensi yang diuji. Skema Muda lebih menekankan kemampuan teknis dasar dalam menghasilkan karya desain, sedangkan skema Madya menilai kemampuan yang lebih menyeluruh, mulai dari menyusun konsep, menganalisis kebutuhan klien, hingga menyampaikan solusi visual secara profesional. Sebelum mendaftar sertifikasi, pastikan kamu menyesuaikan pilihan jenjang dengan pengalaman, kemampuan, dan kesiapan yang dimiliki. Memilih skema yang tepat membantu memperoleh sertifikasi yang benar-benar mencerminkan kompetensimu di bidang desain grafis.
FAQ
1. Apakah sertifikat BNSP Desain Grafis Muda dan Madya sama-sama diakui?
Ya. Keduanya merupakan sertifikasi kompetensi yang diterbitkan melalui LSP berlisensi BNSP sehingga memiliki pengakuan secara nasional.
2. Fresh graduate sebaiknya memilih Desainer Grafis Muda atau Madya?
Sebagian besar fresh graduate lebih sesuai mengikuti skema Desainer Grafis Muda karena kompetensinya dirancang untuk level awal hingga junior.
3. Apakah setelah lulus Desainer Grafis Muda bisa mengikuti Madya?
Bisa. Setelah pengalaman dan kompetensi meningkat serta memenuhi persyaratan LSP penyelenggara, peserta dapat mengikuti sertifikasi pada jenjang Madya.
Jadi gimana? Kamu tertarik untuk mengambil sertifikasi di bidang data? Nah, ini saat yang tepat meningkatkan skill untuk mengolah dan menganalisis data menggunakan berbagai formula Excel bersama DQLab! Dimana, DQLab sebagai platform pembelajaran data science unggulan di Indonesia sudah menyediakan berbagai modul interaktif yang bisa dipelajari secara mandiri dengan waktu yang fleksibel. Mau belajar tapi nggak yakin dengan kualitas pembelajaran online?
Tenang! Semua modul yang disajikan dalam platform DQLab untuk persiapan sertifikasi sudah teruji dan berhasil mencetak ratusan talenta unggulan yang sukses berkarir di bidang data, karena kurikulumnya dirancang oleh para ahli sesuai dengan kebutuhan industri.
Selain itu, DQLab juga menggunakan metode pembelajaran HERO, yaitu Hands-On, Experiential Learning & Outcome-based yang dirancang ramah untuk pemula dengan para mentor pengajar profesional. Gimana menarik kan? Segera Sign Up yuk! Ikuti Bundle Pelatihan & Sertifikasi BNSP Data Scientist (Ilmuwan Data) untuk upgrade karirmu sekarang juga!
Penulis: Reyvan Maulid
Mulai Karier
sebagai Praktisi
Data Bersama
DQLab
Daftar sekarang dan ambil langkah
pertamamu untuk mengenal
Data Science.

Daftar Gratis & Mulai Belajar
Mulai perjalanan karier datamu bersama DQLab
Sudah punya akun? Kamu bisa Sign in disini
